HASIL SURVEI FAKTOR RISIKO PENYAKIT DBD (SURVEI JENTIK AEDES)
BALAI KEKARANTINAAN KESEHATAN KELAS I JAYAPURA
WILAYAH KERJA PELABUHAN SARMI
PENDAHULUAN
Pelabuhan merupakan point of entry lalu lintas orang dan barang dari dan ke negara dan wilayah. Hal ini tentu akan berimbas pada gaya hidup, perekonomian, dan tingkat kesehatan masyarakat setempat. Perubahan tersebut di atas juga berpengaruh pada pola penularan penyakit yang terjadi. Salah satunya adalah munculnya penyakit re-emerging disease dan emerging disesase yang berpotensi sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2023, Balai Kekarantinaan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan upaya cegah tangkal keluar atau masuknya penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan di wilayah kerja Pelabuhan laut, bandar udara, dan pos lintas batas darat negara. Dalam rangka mewujudkan pelabuhan sehat, maka dilakukan upaya-upaya pengendalian risiko lingkungan dalam rangka memutus mata rantai penularan penyakit. Kegiatan survei jentik Aedes sp. yang dilaksanakan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit DBD dengan melakukan identifikasi potensi faktor risiko penyakit lingkungan di wilayah pelabuhan laut.
Salah satu jenis nyamuk yang menyumbang masalah kesehatan yang cukup besar adalah Aedes Aegypti. Tempat hinggap yang disenangi jenis nyamuk ini ialah benda-benda yang tergantung, seperti : pakaian, kelambu atau tumbuh-tumbuhan di dekat berkembang biaknya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Setelah masa istirahat selesai, nyamuk itu akan meletakkan telurnya pada dinding bak mandi/WC, tempayan, drum, kaleng, ban bekas, dan lain-lain (Depkes RI, 2014).
Nyamuk Aedes Aegypti dapat menularkan beberapa penyakit seperti, Demam Berdarah Dengue (DBD), Yellow Fever (demam kuning), zika dan chikungunya. Hal ini disebabkan adanya virus yang menyebabkan penyakit tersebut dapat hidup dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti sehingga penyakit tersebut dapat ditularkan oleh seseorang yang menderita penyakit kemudian digigit nyamuk Aedes Aegypti lalu nyamuk tersebut menggigit orang lain maka terjadilah penularan penyakit (ECDC, 2014)
TUJUAN
Untuk mengetahui keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor utama dan Aedes albopictus yang merupakan vektor sekunder penyakit DBD di wilayah kerja Pelabuhan Sarmi pada bulan November 2025.
METODE
Salah satu metode yang bisa dilakukan untuk mengukur luasnya penyebaran nyamuk dalam suatu wilayah yaitu survei jentik dengan tujuan mengukur tingkat kepadatan jentik pada suatu daerah dengan melakukan pengamatan langsung ke tempat-tempat penampungan air /kontainer. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik yaitu House Index, adalah jumlah rumah ditemukan jentik per jumlah rumah di survei kali 100%, Container Indeks, adalah jenis container yang berpotensi/ paling banyak ditemukan jentik dan Breteau index (BI), menyatakan jumlah container yang positif jentik Aedes aegypti dalam 100 rumah yang diperiksa. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas untuk mengetahui gambaran kepadatan jentik nyamuk Aedes sp di wilayah kerja pelabuhan Sarmi.
HASIL KEGIATAN
Hasil survei jentik Aedes sp. di wilayah kerja Pelabuhan Laut Sarmi pada tanggal 25 November 2025 dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 1.
Hasil Survei Jentik Aedes sp.

PEMBAHASAN
Survei vektor penyakit DBD atau pengamatan jentik Aedes sp, mencakup area Perimeter dengan jumlah 2 bangunan dan 3 contaniner dengan hasil tidak ditemukan bangunan dan contaniner positif jentik. Sedangkan untuk area Buffer dengan jumlah 28 bangunan dan 141 container dengan hasil ditemukan 2 bangunan positif serta 2 container yang positif jentik Aedes Aegypti.
Untuk pemakaian abate (Larvasida) pada area perimeter sebanyak 20 gram dan area buffer 270 gram.
KESIMPULAN
Survei jentik Aedes sp. dilakukan di area perimeter wilayah kerja Pelabuhan Sarmi dengan hasilnya tidak ditemukan jentik Aedes sp.di daerah perimeter, sehingga HI, CI, BI pada area perimeter adalah sama dengan nol (HI=CI=BI=0) dan ABJ adalah 100%. Sedangkan untuk daerah buffer ditemukan terdapat dua bangunan dan dua container, sehingga hasil HI:7,1 CI:1,4 BI:7 dan ABJ: 93%. Berdasarkan hasil tersebut, maka nilai HI, CI, dan ABJ di area perimeter sesuai standar baku mutu kesehatan lingkungan, sedangkan untuk area buffer tidak sesuai baku mutu Kesehatan lingkungan.
Hasil pengamatan yang tidak memenuhi syarat disarankan untuk dilaksanakan tindak lanjut berupa KIE maupun pengendalian larvasidasi yaitu penaburan abate di container yang terdapat jentik nyamuk Aedes sp. dan container yang berpotensi terjadinya tempat perkembangbiakan (breeding places) nyamuk Aedes sp.
Referensi