Pelaksanaan Surveilans Migrasi Malaria

Oleh Administrator
Selasa, 14 Oktober 2025 03:56
Dibaca 299 kali

Pelaksanaan Surveilans Migrasi Malaria

Balai Kekarantinaan kesehatan Kelas I Jayapura

Tahun 2025

(Penulis: Mina Sipayung, SKM, M.Kes)


(JAYAPURA), Malaria termasuk penyakit infeksi Re-emerging yaitu penyakit yang telah ada sebelumnya dan muncul kembali sehingga menyerang suatu populasi namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam jumlah kasus baru di dalam satu populasi ataupun penyebarannya ke daerah geografis yang baru. (termasuk re-emerging desease yaitu: malaria, tuberkulosis, kolera, pertusis, influenza, penyakit pneumokokus, dan gonore). Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil. Selain itu, malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Malaria merupakan salah satu penyakit yang menjadi prioritas baik global maupun nasional.

Surveilans migrasi malaria merupakan bagian dari program surveilans penemuan aktif malaria yaitu strategi program peningkatan kewaspadaan (SKD-KLB) terhadap timbulnya malaria, kecenderungan migrasi penduduk dan kecenderungan kasus impor/ekspor serta deteksi dini adanya penularan setempat, perubahan kondisi lingkungan, vektor, perilaku penduduk yang berpotensi terjadinya penularan malaria.

Kegiatan penemuan dan pengobatan penderita secara dini dapat mengurangi terjadinya penularan malaria kepada orang lain. Penemuan dan diagnosis dini mataria terutama pada kelompok migrant worker atau penduduk yang bermigrasi dari daerah non endemis malaria ke daerah endemis malaria dan sebaliknya. Kelompok berisiko terhadap penularan malaria juga dapat menjadi sumber penular di daerah endemis lainnya. Karena itu perlu dilakukan kegiatan surveilans penemuan aktif malaria kepada kelompok berisiko termasuk Anggota PAMTAS (Pengaman Perbatasan) yang bertugas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw-Wutung/Perbatasan RI-PNG yang termasuk Wilayah Kerja Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura.

Pemeriksaan malaria menggunakan Rapid Diagnostik Test (RDT), jika di dalam darahnya ditemukan parasit malaria maka langsung diobati dengan Obat Anti Malaria (OAM) Dihydroartemisinin-Piperaquine/DHP dan Primaquin sesuai dosis. Hasil Pemeriksaan Sampel Malaria dilaporkan secara Online dalam Aplikasi E-SISMAL dan Aplikasi SKDR-EBS oleh Petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura.

Tujuan dari Surveilans Migrasi Malaria adalah :

  • Terlaksananya Tugas Pokok dan Fungsi Balai Kekarantinaan Kesehatan sebagai garda terdepan bidang kesehatan di Pelabuhan, Bandara dan PLBN berperan aktif dalam rangka cegah tangkal malaria untuk mendeteksi kasus malaria pada pelaku perjalanan
  • Terlaksananya deteksi dini penyakit malaria melalui pemeriksaan RDT malaria secara cepat pada pelaku perjalanan dari daerah non endemis di Wilayah Kerja BKK Kelas I Jayapura
  • Terlaksananya notifikasi ke daerah tujuan dan pengobatan malaria bagi penderita dengan hasil RDT malaria positif di Wilayah Kerja BKK Kelas I Jayapura pada tahun 2025.
  • Terlaksananya tindakan pencegahan penyakit malaria melalui penyuluhan kesehatan kepada pelaku perjalanan dan masyarakat dengan membangikan leaflet tentang malaria.
  • Terinputnya data Surveilans Migrasi Malaria pada Aplikasi e-SISMAL serta Aplikasi SKDR-EBS di BKK Kelas I Jayapura
  • Adanya gambaran epidemiologis hasil pelaksanaan Surveilans Migrasi Malaria di Wilayah Kerja PLBN Skouw BKK Kelas I Jayapura pada tahun 2025.

KEGIATAN SUVEILANS MIGRASI MALARIA DI WILAYAH KERJA PLBN SKOUW BKK KELAS I JAYAPURA TAHUN 2025

1. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan data primer didapatkan melalui surveilans migrasi malaria secara aktif. Kegiatan dilaksanakan tanggal 03 Oktober 2025. Langkah pelaksanaan dimulai oleh Tim Epidemiolog, wawancara menggunakan form migrasi malaria guna pengambilan data: Identitas (umur, jenis kelamin), riwayat penyakit malaria, aktifitas di luar rumah pada malam hari, kondisi lingkungan pos tempat tinggal.

Pelaksanaan migrasi malaria bertempat di Marsall Area Yonif 751 Sentani Kabupaten Jayapura, sebagai tempat penampungan sementara setelah ditarik dari pos pos di perbatasan, menunggu persiapan naik kapal. Dari total satgas 450 orang, sebanyak 366 orang (81 %) pernah terpapar malaria sejak bertugas di Pos Perbatasan selama 1 tahun. Personil yang diikutkan dalam pemeriksaan migrasi malaria ini berjumlah 150 orang, penentuan personil ditentukan pihak Pamtas yaitu personil yang paling sering terinfeksi malaria.

Tahap selanjutnya pengambilan darah, pemeriksaan dan pembacaan hasil oleh tim Medis/ATLM. Pengambilan dan pemeriksaan sediaan darah cepat (Rapid Diagnostic Test) RDT malaria bagi anggota PAMTAS Yonif 131 akan kembali ke Kesatuan Asal Braja Sakti Payakumbuh Sumatera Barat. Satgas Pamtas ini telah bertugas di Pos Perbatasan RI – PNG sejak tanggal 19 September 2024 sampai dengan 29 September 2025, yang tersebar pada 21 Pos Satgas, dengan jumlah total anggota satgas 450 orang.

2. PROFIL PETUGAS

Pelaksanaan kegiatan Surveilans Migrasi Malaria di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura secara teknis dikoordinir oleh Ketua Tim Kerja Surveilans dan Penindakan Pelanggaran Kekarantinaan dan meliputi Tenaga Teknis: Epidemiolog, Dokter, Perawat dan ATLM. Kegiatan dilaksanakan tanggal 03 Oktober 2025.

 3. Metode Penyajian Data

Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif untuk melihat distribusi berdasarkan orang, tempat, dan waktu. Disajikan dalam bentuk grafik baik pie maupun batang serta narasi, dirangkum menjadi satu laporan kegiatan Penemuan Aktif Surveilans Migrasi Malaria, Wilayah Kerja PLBN Skouw Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Tahun 2025.

4. HASIL

Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura telah melaksanakan tugas Penemuan aktif surveilans migrasi malaria kepada kelompok berisiko termasuk Anggota PAMTAS (Pengawal Perbatasan) yang bertugas di Pos Perbatasan RI-PNG Wilayah Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura, dengan hasil sebagai berikut:

I. Karakteristik Individu Berdasarkan Kelompok Umur

Berdasarkan grafik 1 terlihat bahwa kelompok umur yang paling banyak adalah 20-29 tahun sebesar 54 %, diikuti kelompok umur 30-39 tahun sebesar 42 %, hal ini menunjukkan Anggota PAMTAS memerlukan usia produktif untuk mendukung pekerjaan yang membutuhkan fisik dan badan kondisi prima.

2. Karakteristik Individu Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan grafik 2 terlihat semua Anggota PAMTAS berjenis kelamin laki-laki, hal ini menunjukkan bahwa jenis pekerjaan yang cocok sebagai Anggota PAMTAS adalah taki-laki sesuai dengan area wilayah membutuhkan fisik dan badan yang kuat.

3. Hasil Pemeriksaan RDT Malaria Satgas PAMTAS

Jumlah total anggota Pamtas yang diperiksa 149 orang, dengan hasil pemeriksaan positif parasite malaria sebesar 9 orang (6%), namun hal ini berbeda dengan riwayat frekwensi terpapar malaria anggota satgas, dimana saat wawancara didapatkan setiap anggota personil mengaku terinfeksi malaria sebanyak 2-3 kali bahkan ada yang 5-7 kali. Gejala yang dialami pada umumnya: demam, menggigil, sakit kepala, mual, badan/tulang pegal pegal, badan lemas dan selera makan berkurang.

4. Kebiasaan/Perilaku Satgas PAMTAS Yang Mendukung Risiko Terpapar Malaria

Kegiatan pada malam hari diatas jam 22.00 dilakukan anggota PAMTAS adalah Piket Jaga Malam, yang dilakukan bergiliran dan merupakan tugas wajib sebagai anggota pengamanan perbatasan, hal ini juga merupakan factor risiko mendapat gigitan vector malaria (waktu menggigit nyamuk anopheles antara pukul 22.00 hingga pukul 06.00). Saran yang diberikan agar para anggota PAMTAS menggunakan baju lengan panjang dan celana panjang serta menggunakan refllent anti nyamuk, untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk vektor malaria.

5. Pemberian Obat Anti Malaria

Distribusi pemberian OAM bagi anggota Satgas PAMTAS yang diperiksa darah RDT malaria dan didapatkan positif parasit malaria sebanyak 9 orang, terhadap yang positif malaria ini diberikan Obat Anti Malaria (OAM), Dihydroartemisinin-Piperaquine/DHP dan Primaquin, dengan jumlah sesuai pada grafik 4.

6. Riwayat Positif Malaria Selama Bertugas di Pos Satgas RI - PNG

Lima Pos yang menjadi sasaran Penemuan Aktif migrasi malaria tahun 2025, adalah Pos yang terdekat (perimeter dan buffer area) Pos Resmi Perbatasan RI – PNG, seperti data pada grafik 3, dengan uraian sebagai brikut:

a. Pos Kotis

Pos Kotis dengan jumlah personil 56 orang, personil yang tidak pernah terpapar malaria yaitu nol, frekwensi terpapar malaria sejumlah 107 kali, hal ini menunjukkan setiap personil Satgas pernah mengalami paparan malaria sebanyak 2 sampai 3 kali, bahkan ada personil terpapar 4 kali selama bertugas di Pos Perbatasan RI – PNG sejak tanggal 19 September 2024 sampai dengan 29 September 2025. Jenis parasite malaria yang dialami yaitu malaria falsifarum sebayak 26 kali paparan, malaria tersiana sebanyak 70 kali paparan dan malaria mix sebanyak 11 kali paparan

b. Pos Kout

Pos Kout dengan jumlah personil 28 orang, personil yang tidak pernah terpapar malaria yaitu 16 orang, frekwensi terpapar malaria sejumlah 12 kali, jenis parasite malaria yaitu falsifarum 4 kali paparan dan malaria tersiana 8 kali paparan. Kondisi ini menunjukkan ada personil satgas yang tidak pernah mengalami paparan malaria pada pos ini, hal ini kemungkinan disebabkan lokasi Pos Kout berada di perimeter area PLBN Skouw, dimana selalu rutin pelaksanaan survei dan pengendalian vector malaria oleh Tim Entomolog BKK Kelas I Jayapura. Pos Kout juga berada pada lingkungan sanitasi yang bersih, tidak berawa-rawa, tidak ada semak belukar, sebagai breeding place nyamuk anopheles.

c. Pos Muara Tami

Pos Muara Tami dengan jumlah personil 18 orang, personil yang tidak pernah terpapar malaria yaitu nol, frekwensi terpapar malaria sejumlah 28 kali, hal ini menunjukkan setiap personil Satgas pernah mengalami paparan malaria sebanyak 2 sampai 3 kali, selama bertugas di Pos Perbatasan RI – PNG sejak tanggal 19 September 2024 s/d 29 September 2025. Jenis parasite malaria yang dialami yaitu malaria falsifarum sebayak 11 kali paparan, malaria tersiana sebanyak 14 kali paparan, malaria mix sebanyak 3 kali paparan

d. Pos Bendungan Tami

Pos Bendungan Tami dengan jumlah personil 20 orang, personil yang tidak pernah terpapar malaria yaitu nol, frekwensi terpapar malaria sejumlah 51 kali, hal ini menunjukkan setiap personil Satgas pernah mengalami paparan malaria sebanyak 2 sampai 3 kali, bahkan ada personil terpapar 4 kali selama bertugas di Pos Perbatasan RI – PNG sejak tanggal 19 September 2024 s/d 29 September 2025. Jenis parasite malaria yang dialami yaitu malaria falsifarum sebayak 4 kali paparan, malaria tersiana sebanyak 45 kali paparan, malaria mix sebanyak 2 kali paparan

e. Pos Kampung Mosso

Pos Kampung Mosso dengan jumlah personil 18 orang, personil yang tidak pernah terpapar malaria yaitu nol, frekwensi terpapar malaria sejumlah 28 kali, hal ini menunjukkan setiap personil Satgas pernah mengalami paparan malaria sebanyak 2 sampai 3 kali, selama bertugas di Pos Perbatasan RI – PNG sejak tanggal 19 September 2024 s/d 29 September 2025. Jenis parasite malaria yang dialami yaitu malaria falsifarum sebayak 10 kali paparan, malaria tersiana sebanyak 16 kali paparan, malaria mix sebanyak 2 kali paparan

5. ANALISIS PENYEBAB

Analisis penyebab dilakukan untuk mengetahui faktor risiko apa yang menyebabkan banyaknya jumlah penyakit yang diderita masyarakat sekitar. Sesuai dengan kondisi terpapar malaria pada anggota satgas Pamtas jumlah total 450 orang dan sebanyak 366 orang (81 %) pernah terpapar malaria selama bertugas di Pos Perbatasan selama 1 tahun. Hal ini erat kaitannya dengan keberadaan vector malaria di sekitas Pos Pamtas. Dalam pengumpulan data didapatkan:

a. Keberadaan genangan air dan pohon/semak-semak (resting place) dengan jarak < 200 meter yang ada di lingkungan sekitar tempat pos berhubungan dengan kejadian malaria. Resting place salah satu faktor lingkungan yang mendukung dalam penyediaan tempat berkembangbiaknya nyamuk Anopheles dan berperan serta dalam penyebaran dan penularan penyakit malaria. Semak-semak merupakan tempat peristirahatan bagi Anopheles setelah menghisap darah karena tempat tersebut memiliki kelembaban yang tinggi disebabkan terhalangnya sinar matahari.

b. Perkembangbiakan dan penyebaran nyamuk Anopheles dipengaruhi oleh faktor lingkungan secara global iklim dan perubahan lingkungan fisik meliputi temperatur/suhu dan pola tiupan angin yang berdampak langsung pada perkembangan vektor, sesuai kondisi iklim di lokasi pos satgas yang sering turun hujan dan berganti cuaca panas, hal ini mempercepat perkembangbiakan nyamuk anopheles yang menyebabkan risiko kejadian malaria yang tinggi akibat kepadatan nyamuk anopheles

c. Perilaku yang memperbesar peluang terjadinya malaria dalam kehidupan sehari-hari saat melakukan aktivitas seperti tidak menggunakan pakaian tertutup saat diluar rumah, tidak menggunakan kelambu pada saat tidur, dan kebiasaan di luar rumah pada malam hari, misalnya saat giliran piket jaga malam.

6. Penyuluhan /Pemberian Informasi Malaria

Pada saat melakukan kegiatan Surveilans Penemuan Aktif Migrasi Malaria Personil Satgas PAMTAS), Wilayah kerja PLBN Skouw BKK Kelas Jayapura, sebelum melakukan pemeriksaan sediaan darah diberikan penyuluhan singkat tentang malaria dan pemberian leaflet malaria. Tujuan agar anggota Satgas PAMTAS mendapatkan pengetahuan cara penularan, pencegahan, pengobatan dan pengendalian malaria, serta mengetahui tujuan dari kegiatan Surveilans Migrasi malaria yang dilakukan dimana menjadi salah satu strategi nasional untuk mendukung eliminasi malaria 2030, juga sejalan dengan tujuan Surveilans Migrasi Malaria adalah untuk mencegah masuknya penyakit malaria dari daerah endemis malaria ke daerah bebas/non endemis malaria serta mempertahankan daerah atau wilayah yang sudah bebas malaria dari kasus malaria.

  7. DESIMINASI INFORMASI

    Desiminasi Informasi dapat dilakukan ke tingkat atas maupun ke bawah. Data/informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan surveilans epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat melakukan tindakan penanggulangan malaria atau upaya peningkatan program kesehatan, pertukaran data dalam jejaring surveilans epidemiologi agar diketahui terjadinya peningkatan atau penurunan kasus

     Bentuk Diseminasi Informasi yang dilakukan Petugas surveilans Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura, dalam menyebarluaskan data/informasi kasus dengan cara:

a. Menyampaikan informasi kepada petugas Satgas PAMTAS yang bersangkutan dan dokter Satgas untuk dilaksanakan tindak lanjut pengobatan dan observasi keluhan pasien jika masih ada

b. Memberikan umpan balik kepada sumber data/pasien dalam rangka perbaikan prilaku hidup bersih sebagai pengendalian vector malaria

c. Menyebarluaskan data/informasi kasus malaria melalui pemanfaatkan teknologi seperti layanan internet melalui aplikasi e-SISMAL.

d. Website SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) pada Menu IBS (Indicator Based Surveillance). Instansi BKK harus input kasus malaria positif dalam menu EBS, sehingga Petugas Supervisi (Dinkes Kota Jayapura) dapat melakukan verifikasi terhadap data kasus tersebut.

e. Menyampaikan informasi berupa notifikasi sebagai sumber data/laporan surveilans, untuk peningkatan program bidang malaria dan tindak lanjut kasus dengan melakukan surveilans aktif di daerah tujuan. Desiminasi Informasi berupa notifikasi malaria ditujukan kepada:

  1. Dirjen P2 up Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan
  2. Dinas Kesehatan Provinsi Papua
  3. Dinas Kesehatan Kota Jayapura
  4. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat
  5. Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh
  6. Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Padang

8. KESIMPULAN

a. Jumlah Anggota Satuan PAMTAS Yonif 131/Braja Sakti yang diperiksa RDT malaria berjumlah 149 orang yang tersebar pada 21 Pos Pamtas di Perbatasan RI- PNG

b. Jumlah Anggota Satuan PAMTAS yang diperiksa RDT malaria dengan hasil positif parasite malaria sebesar 9 orang (6%), namun hal ini berbeda dengan riwayat frekwensi terpapar malaria anggota satgas, dimana saat wawancara didapatkan setiap anggota personil mengaku terinfeksi malaria sebanyak 2 -3 kali bahkan ada yang 5-7 kali, yang tersebar pada 21 Pos Pamtas

c. Pemakaian OAM berjumlah Primaquin 144 tablet dan DHP 165 tablet

d. Kejadian malaria tersebar pada semua Pos Satgas Pamtas, erat kaitannya dengan Pengaruh Kondisi Lingkungan: semak belukar, rawa-rawa yang merupakan breeding place vector malaria, cuaca hujan dan panas bergantian mempercepat perkembangbiakan vector anopheles.

e. Telah diberikan penyuluhan singkat tentang malaria dan pemberian leaflet malaria kepada Satgas Pamtas

Notifikasi penderita malaria dilakukan dan diberikan setelah kasus positif ditemukan, untuk segera menindaklanjuti dan mengobati kasus tersebut. Dengan demikian, Surveilans Migrasi Malaria menjadi kunci mempertahankan daerah eliminasi malaria dan mencegah terjadinya penularan setempat yang bersumber dari kasus impor.