Pentingnya Skrining Deteksi Dini HIV dan Tuberkulosis di Point of Entry

Oleh Administrator
Kamis, 11 Desember 2025 07:22
Dibaca 182 kali

Pentingnya Skrining Deteksi Dini HIV dan Tuberkulosis di Point of Entry

Penulis: Mina Sipayung, SKM, M.Kes (Timker 1)

Pelabuhan, Bandar Udara dan Pos Lintas Batas Negara, sebagai pintu masuk dan keluar utama bagi banyak orang, dapat menjadi faktor risiko untuk penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Tuberkulosis (TBC), dengan alasan sebagai berikut:

Mobilitas Penduduk: Orang sering bepergian melalui lokasi-lokasi ini, baik untuk bekerja, berwisata, atau mencari suaka, yang dapat mempercepat penyebaran penyakit menular dari satu wilayah geografis ke wilayah lainnya.

Populasi Rentan: Tempat-tempat ini sering kali memiliki konsentrasi tinggi pekerja migran dan pelaut, yang mungkin menghadapi kondisi kerja sulit, kesulitan mengakses layanan kesehatan, dan terlibat dalam perilaku seksual berisiko tinggi.

Lingkungan Padat: Area transit seperti bandara dan pelabuhan sering padat, yang dalam kasus TBC, memudahkan penularan kuman melalui udara saat orang batuk atau bersin di ruang tertutup.

Pada hari Selasa tanggal 25 November 2025 di Pelabuhan Laut BKK Kelas I Jayapura, diadakan pemeriksaan deteksi Dini HIV dan TBC. Kegiatan ini didasari oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2023 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Kekarantinaan Kesehatan, dimana tugas pokok dan fungsi adalah upaya cegah tangkal keluar dan masukknya penyakit dan atau faktor risiko penyakit di Pelabuhan, Bandara Udara serta Pos Lintas Negara.

Kegiatan ini juga berdasar atas rencana strategi Menteri Kesehatan tahun 2025 – 2029 bahwa HIV dan TBC masih merupakan prioritas karena masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama TBC karena menurut data WHO kasus TBC di Indonesia masih menduduki urutan kedua dunia.

Sasaran deteksi dini adalah lintas sektor dan pekerja yang ada di Pelabuhan Laut Jayapura. Jumlah peserta pemerikasaan TBC-HIV sebanyak 50 orang yang berasal dari Pegawai Perhubungan, Polsek Kawasan Pelabuhan Laut Jayapura, Agen Pelayaran, Pegawai Kesyahbandaran, Penjamah Makanan dan Mayarakat Pelabuhan.

Deteksi HIV (Human Imunodeficiency Virus) sejak dini merupakan langkah penting untuk mengurangi penularan dan meningkatkan keberhasilan pengobatan HIV. Namun, meskipun angka kasus HIV terbilang tinggi, banyak orang yang masih merasa enggan untuk melakukan tes HIV karena stigma negatif yang melekat pada penyakit ini. Padahal, semakin cepat penyakit infeksi HIV terdeteksi, semakin efektif pula pengobatan HIV yang dilakukan. Pengobatan dini tersebut juga bisa menurunkan risiko penderita infeksi HIV ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) mengalami AIDS (Acquared Imunodeficiency Syndrome). Selain itu memiliki keuntungan mengetahui status HIV sejak dini, sehingga membuat penerapan langkah-langkah pencegahan penyebaran virus dapat dilakukan sebaik mungkin.

Penyakit TBC (Tuberculosis) yang sering berkaitan dengan HIV/AIDS memiliki banyak gejala, seperti batuk lebih dari 2 minggu, batuk berdahak atau berdarah, nafsu makan menurun, penurunan berat badan, demam dan berkeringat saat malam hari. Meski begitu, gejala-gejala tersebut terkadang serupa dengan gejala penyakit lain. Untuk memastikan apakah seseorang menderita TBC atau tidak, dibutuhkan pemeriksaan penunjang. Tingginya risiko penularan TBC umumnya berasal dari pasien TBC yang tidak berobat atau tidak menjalani pengobatan hingga tuntas. Namun, jika menjalani pengobatan dengan tepat, pasien TBC umumnya tidak lagi menularkan penyakit tersebut. Epidemi HIV menunjukan pengaruhnya terhadap peningkatan epidemi TBC di seluruh dunia yang berakibat pada meningkatnya jumlah kasus TBC di masyarakat.

Hubungan Tuberkulosis dan HIV. HIV dan TBC sering kali menginfeksi seseorang secara bersamaan dan menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang lebih berat. Oleh karena itu, pasien TBC menjadi salah satu populasi kunci untuk skrining HIV. Infeksi HIV akan menurunkan kekebalan tubuh penderita sehingga mempermudah terjadinya infeksi TBC dengan tingkat morbiditas yang lebih tinggi. Deteksi dini infeksi TBC-HIV sangat penting agar pengobatan dapat dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan beban morbiditas dan mortalitas.

Kegiatan pemeriksaan deteksi Dini HIV dan TBC diawali dengan penyuluhan kepada para peserta dengan materi pentingnya deteksi dini HIV dan TBC. Deteksi dini HIV dan TBC, peserta yang mengikuti pemeriksaan ini mendapatkan manfaat karena bisa mengetahui status kesehatannya sedini mungkin sehingga pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan. Semoga kegiatan seperti ini rutin dilakukan terutama di wilayah Kerja BKK Kelas I Jayapura. Akan baik bila program penanggulangan TBC di negara kita juga lebih memberi perhatian pada skrining dan pencegahan, dua aspek penting dalam pengendalian TBC, untuk mendukung eliminasi TBC pada tahun 2030. (BKK Kelas I Jayapura).