GAMBARAN PENGAWASAN HASIL SURVEI JENTIK ANOPHELES SP. DI PELABUHAN SARMI

Oleh Administrator
Kamis, 26 Februari 2026 01:00
Dibaca 0 kali

GAMBARAN PENGAWASAN HASIL SURVEI JENTIK ANOPHELES SP. DI PELABUHAN SARMI

PENDAHULUAN

Balai Kekarantinaan Kesehatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan yang memiliki tugas dalam mencegah masuk dan keluarnya penyakit menular potensial wabah, melaksanakan tindakan kekarantinaan, memberikan pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja pelabuhan, serta melakukan pengendalian dampak kesehatan lingkungan.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan menyelenggarakan kegiatan pemberantasan serangga penular penyakit, termasuk nyamuk. Seiring meningkatnya teknologi, arus perdagangan, dan mobilitas manusia, risiko penularan penyakit melalui alat angkut dan isinya semakin besar. Salah satu faktor risiko tersebut adalah keberadaan vektor seperti nyamuk, baik yang terbawa oleh alat angkut maupun vektor lokal yang berpotensi terinfeksi dari penderita yang datang dari daerah endemis.

Nyamuk merupakan serangga yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat karena berperan sebagai vektor berbagai penyakit. Untuk mendukung upaya pengendalian vektor yang tepat sasaran dan efektif, diperlukan pengetahuan mengenai bionomik dan morfologi nyamuk sebagai dasar dalam penentuan strategi pengendalian.

Anopheles adalah nyamuk vektor penyakit malaria dan filariasis. Secara morfologi nyamuk Anopheles mempunyai siklus hidup dengan metamorfosis sempurna. Lama siklus hidup nyamuk Anopheles dipengaruhi kondisi lingkungan, misalnya suhu, adanya zat kimia/biologis di tempat hidup. Air merupakan faktor esensial bagi perkembangbiakan nyamuk. Oleh karena itu, hujan dapat menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidak dialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal.7 Nyamuk Anopheles mempunyai kemampuan memilih tempat perindukan atau tempat perkembangbiak sesuai dengan kesenangan dan kebutuhannya. Jentik Anopheles berkembangbiak pada berbagai jenis genangan air, namun umumnya yang paling disukai adalah air jernih yang kontak dengan tanah dan tidak banyak tercemar.8 Tempat berkembangbiak nyamuk Anopheles dapat berupa genangan air tawar atau air asin, rawa-rawa, kolam yang banyak di tumbuhi tanaman air, persawahan, muara sungai yang alirannya tidak deras, saluran irigasi dan kolam kecil berisi air hujan.2Apabila kepadatan nyamuk (vektor) semakin tinggi maka akan mempengaruhi jumlah kasus malaria. Hal ini disebabkan karena sering terpaparnya manusia dengan nyamuk sehingga jumlah atau frekuensi gigitan nyamuk semakin meningkat.

Peningkatan kasus malaria merupakan peranan dari nyamuk Anopheles sebagai vektor tunggal dalam proses penularan penyakit malaria. Semakin banyak populasi Anopheles betina maka semakin tinggi risiko untuk menularkan penyakit malaria. Tingginya populasi nyamuk Anopheles betina sangat erat kaitannya dengan tempat perkembangbiakan didekat pemukiman masyarakat. Perilaku nyamuk Anopheles dalam kehidupannya memerlukan tempat perindukan. Keberadaan tempat perindukan menjadikan nyamuk meneruskan siklus perkembangbiakan pada fase aquatic dimana pada fase ini nyamuk akan bertelur sampai masa larva dan pupa.10

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Di Indonesia, telah ditemukan 26 spesies Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria, dan distribusi spesies ini berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Keberagaman spesies tersebut diketahui melalui pelaksanaan surveilans vektor yang berkesinambungan.

Data surveilans vektor malaria maupun DBD menjadi dasar pemilihan metode pengendalian vektor yang tepat. Metode pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan fisik, biologis, modifikasi lingkungan, maupun kimia. Pengendalian vektor secara terpadu (Integrated Vector Management/IVM) akan menghasilkan intervensi yang lebih efektif dan efisien.

TUJUAN

Untuk mengetahui tingkat kepadatan jentik Anopheles sp., Aedes sp., dan Culex sp, Untuk mengetahui jumlah dan distribusi kepadatan populasi nyamuk, Untuk mengetahui jenis spesies nyamuk yang ditemukan di wilayah Pelabuhan Laut Sarmi

HASIL KEGIATAN

Hasil survei jentik Anopheles sp. di wilayah kerja Pelabuhan Sarmi pada tanggal dapat dilihat pada tabel

KESIMPULAN

Survei jentik Anopheles sp. dilakukan di 3 tempat (habitat) area buffer wilayah kerja Pelabuhan Sarmi dengan hasil tidak terdapat jentik Anopheles sp. Total cidukan yang dilakukan adalah 30 ciduk dengan masing-masing 10 cidukan pada 1 habitat. Berdasarkan hasil tersebut, maka angka kepadatan jentik (KJ) Anopheles sp. adalah 0,0 dan indeks habitat jentik Anopheles sp. adalah 0,0 %, sehingga indeks habitat sesuai standar baku mutu kesehatan lingkungan (indeks <1).

REFERENSI

Kementerian Kesehatan RI (2023). Peraturan Menteri Kesehatan No. 10 Tahun 2023 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Kekarantinaan Kesehatan.

Undang-undang No. 17 tahun 2023 tentang kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 2004 tentang Kesehatan Lingkungan