Penulis: Mina Sipayung, SKM, M.Kes
Pendahuluan
Penyakit zoonosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia dan menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat. Salah satu zoonosis yang mulai mendapat perhatian di Indonesia adalah infeksi Hantavirus, yaitu penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat (rodensia) seperti tikus dan mencit. Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru dengan tingkat kematian yang dapat mencapai sekitar 12%, tergantung pada jenis virus dan kondisi pasien. Infeksi ini dapat menyebabkan sindrom demam berdarah dengan gangguan ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS) maupun sindrom kardiopulmoner (Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome/HCPS) dengan tingkat keparahan yang bervariasi. (Wibowo, A. , 2010).
Keberadaan Hantavirus di Indonesia telah dilaporkan baik pada manusia maupun rodensia. Namun, perhatian terhadap penyakit ini masih relatif terbatas dibandingkan zoonosis lain seperti rabies, antraks, atau influenza burung. Padahal, tingginya populasi tikus, perubahan lingkungan, urbanisasi, serta perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini di masa mendatang.
Hantavirus merupakan virus dari genus Orthohantavirus (sebelumnya termasuk genus Hantavirus) dalam famili Hantaviridae. Virus ini memiliki materi genetik berupa RNA rantai tunggal yang terbagi menjadi tiga segmen dan diselimuti oleh amplop lipid sehingga mudah diinaktivasi oleh deterjen, pelarut lemak, pemanasan, maupun sinar ultraviolet.
Hingga saat ini telah diidentifikasi lebih dari 20 spesies Hantavirus yang bersifat patogen pada manusia. Secara klinis, infeksi Hantavirus dibedakan menjadi dua sindrom utama, yaitu:
• Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang terutama menyerang ginjal.
• Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yang menyerang paru-paru dan jantung dengan angka kematian lebih tinggi.
Penyakit ini pertama kali dikenal luas setelah ribuan tentara Amerika Serikat mengalami infeksi saat Perang Korea pada tahun 1951–1954. Virus penyebabnya kemudian berhasil diisolasi pada tahun 1976 dan sejak itu berbagai galur Hantavirus berhasil diidentifikasi di berbagai belahan dunia.
Cara Penularan

Berbeda dengan sebagian besar anggota kelompok Bunyavirales yang ditularkan oleh serangga, Hantavirus ditularkan melalui rodensia sebagai reservoir alami. Penularan kepada manusia terjadi melalui:
• Menghirup aerosol yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering.
• Menghirup aerosol yang berasal dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering.
• Hingga saat ini, penularan antar manusia sangat jarang dan secara umum belum menjadi jalur utama penyebaran penyakit ini. (https://www.kemkes.go.id/id/antisipasi-peningkatan-kasus-kemenkes-perkuat-kewaspadaan-virus-hanta?utm_source=chatgpt.com)
Reservoir dan Hewan Pembawa
Reservoir utama Hantavirus adalah berbagai spesies rodensia. Di Indonesia, beberapa spesies yang telah dilaporkan membawa antibodi atau virus Hantavirus antara lain: Attus norvegicus, Rattus tanezumi, Rattus rattus, Rattus exulans, Bandicota indica, Mus musculus dan Uncus murinus . (Nurisa, I., & Ristyanto, 2005).
Selain rodensia, penelitian juga menemukan antibodi terhadap Hantavirus pada kelelawar, anjing, kucing, bahkan orang utan Kalimantan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dinamika penularan virus di alam masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama terkait perubahan ekosistem akibat deforestasi, urbanisasi, dan perubahan iklim. (Sendow, I, 2013)
Gejala Klinis
Masa inkubasi infeksi Hantavirus berkisar antara 2–8 minggu untuk HFRS dan sekitar 14–17 hari untuk HPS.
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Perjalanan penyakit biasanya terdiri atas lima fase:
1. Fase demam, ditandai demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mata merah, wajah kemerahan, dan kadang muncul bintik perdarahan.
2. Fase hipotensi, ketika tekanan darah menurun akibat kebocoran pembuluh darah sehingga dapat terjadi syok.
3. Fase oliguria, ditandai penurunan produksi urin dan gangguan fungsi ginjal. Fase ini merupakan periode paling kritis.
4. Fase diuresis, produksi urin meningkat sebagai tanda mulai pulih, meskipun komplikasi masih dapat terjadi.
5. Fase penyembuhan (convalescence), berlangsung beberapa minggu hingga bulan dengan kondisi tubuh yang masih lemah.
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejala awal meliputi: demam, nyeri otot, lemas, sakit kepala. Selanjutnya berkembang cepat menjadi: batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, gangguan fungsi jantung. Tipe ini memiliki angka kematian lebih tinggi dibandingkan HFRS apabila tidak segera mendapatkan perawatan intensif.
Situasi Hantavirus di Dunia
HFRS banyak ditemukan di Asia dan Eropa, sedangkan HPS lebih sering terjadi di benua Amerika. Tiongkok merupakan negara dengan jumlah kasus HFRS terbesar di dunia, mencakup sekitar 70–90% kasus global. Korea Selatan juga pernah mengalami kejadian luar biasa, namun berhasil menurunkan jumlah kasus secara signifikan melalui program vaksinasi yang dimulai sejak tahun 1991. Kasus Hantavirus juga telah dilaporkan di Rusia, Jepang, India, Malaysia, Singapura, Thailand, Sri Lanka, berbagai negara Eropa, Afrika, dan Amerika. (Groen, J., et al, 2002).
Situasi Hantavirus di Indonesia
Berdasarkan data Kementrian Kesehatan, sepanjang 2024 hingga 2026 tercatat 342 kasus suspek dan hingga Minggu Epidemiologi ke-27 Tahun 2026 tercatat 24 kasus konfirmasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang tersebar di sembilan provinsi, yaitu DKI Jakarta (6 kasus), Daerah Istimewa Yogyakarta (6 kasus), Sumatera Barat (5 kasus), Sulawesi Utara (3 kasus), serta masing-masing satu kasus di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Seluruh kasus yang terkonfirmasi merupakan HFRS yang disebabkan oleh Seoul virus, sedangkan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) belum pernah dilaporkan di Indonesia.(https://www.antaranews.com/berita/5566033/hantavirus-cermin-peradaban-dan-luka-ekologi-manusia)
.png)
Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini semakin baik, serta pemeriksaan laboratorium. Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS).
Pencegahan dan Pengendalian
Upaya pencegahan Hantavirus terutama difokuskan pada pengendalian populasi rodensia dan perbaikan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta.
Kesimpulan
Infeksi Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan masyarakat. Meskipun jumlah kasus yang dilaporkan di Indonesia masih terbatas, bukti keberadaan virus hanta syndrom HFRS pada manusia maupun rodensia menunjukkan bahwa penyakit ini telah beredar di Indonesia.
Perubahan lingkungan, meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, serta perubahan iklim dapat meningkatkan risiko penyebaran Hantavirus di masa mendatang. Oleh karena itu, penguatan surveilans, penelitian, edukasi masyarakat, pengendalian rodensia, serta kesiapsiagaan sistem kesehatan perlu menjadi prioritas untuk mencegah berkembangnya Hantavirus sebagai ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia.
Daftar Pustaka
1. Sendow, I, (2013). Dampak perubahan iklim terhadap penyakit hewan menular di Indonesia. Wartazoa.
2. Wibowo, A. (2010). Surveilans Hantavirus pada rodensia dan manusia di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
3. Nurisa, I., & Ristyanto. (2005). Penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan.
4. Groen, J., et al, (2002). Hantavirus infections in Indonesia. Tropical Medicine and International Health.
6. https://www.antaranews.com/berita/5566033/hantavirus-cermin-peradaban-dan-luka-ekologi-manusia
7. https://infeksiemerging.kemkes.go.id